Android VS Android

by aries on August 20, 2014

Melihat dari judulnya saja, tentu membuat kita bertanya-tanya, bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Seperti kita tahu, dominasi platform Android di pasar smartphone tidak bisa terbantahkan lagi. Bahkan, menurut laporan riset terbaru, sistem operasi buatan Google ini mampu menguasai market share smartphone sampai 85 %. Bisa dikatakan, paling tidak 8 dari 10 smartphone yang beredar adalah smartphone Android. Lalu, bagaimana mungkin Android bersaing dengan sesama Android yang lain? Jawabannya adalah, Android mendapat ancaman dari Android yang tidak menggunakan layanan Google. Kok bisa?

Tanpa kita sadari, sebenarnya ada dua tipe perangkat Android yang beredar di pasaran. Yang pertama adalah, perangkat Android yang sepenuhnya mendapat dukungan dari Google. Biasanya, system ini diterapkan oleh vendor yang sudah tergabung dalam OHA (Open Handset Alliance). Ciri khas dari Android OHA adalah, menyediakan berbagai layanan Google yang sudah populer seperti Gmail, Goggle Maps, Now, Play Store, dan yang lain. Selain itu, para anggota OHA juga harus mematuhi semua peraturan dan limitasi yang disyaratkan oleh Google.

Google akan luncurkan Android One untuk membendung Android AOSP

Perangkat jenis kedua adalah, Android Open Source Project alias AOSP yang memungkinkan sang pembuat perangkat bisa bebas mengkostumisasi dan memodifikasi elemen perangkat lunaknya. Bahkan, pengembang bisa saja tidak menyertakan layanan Google didalamnya, dan menggantinya dengan layanan yang lain, misalnya dengan menggunakan mesin pencari Bing sebagai ganti dari Google Search, atau meniadakan Play Store dan menggantinya dengan Amazon store.

Brand yang menggunakan perangkat AOSP yang paling terkenal adalah, Xiaomi yang mampu kalahkan Samsung dengan produk Xiaomi Mi3, dan juga Oppo, Meizu, serta One Plus. Menurut laporan dari ABI Research, sebanyak 20% Android yang dikapalkan ke seluruh dunia antara bulan Mei-Juli, merupakan smartphone yang menggunakan AOSP. Hal ini dikarenakan tingginya permintaan pasar smartphone berperangkat AOSP di kawasan India dan China, terutama produk Xiaomi.

Perangkat AOSP rata-rata dibanderol dengan harga yang relative murah daripada perangkat OHA. AOSP biasanya membidik pasar Negara berkembang yang memiliki kecermatan dalam membeli gadget, disesuaikan dengan kemampuan kantong mereka. Di kawasan Asia, akibat dari berkembang pesatnya permintaan smartphone, juga memicu bertambahnya produksi AOSP.

Lalu, langkah antisipasi apa yang diambil oleh Google dalam mengahadapi ancaman tersebut? Google berencana mengeluarkan Android One yang merupakan system operasi baru dengan harga lebih terjangkau, namun tetap menggunakan layanan Google. Android One akan ditargetkan pada smartphone yang memiliki rentang harga di kisaran $100 (sekitar 1 jutaan) untuk pasar Negara berkembang, yang mana merupakan segmen pasar yang selama ini disasar oleh AOSP. Android One akan dibuat lebih simple dan lebih menyatu dengan kostumisasi yang dilakukan sendiri oleh sebuah vendor, seperti halnya HTC dengan Sense-nya dan Samsung dengan Touch Wiz-nya. Akankah langkah Google dengan meluncurkan Android One ini mampu membendung Android AOSP, menarik kita tunggu.

Comments on this entry are closed.