Menilik Eksistensi Smartphone Lokal

by aries on September 29, 2014

Ditengah gempuran berbagai produk smartphone merek luar seperti Samsung, Nokia, Sony, LG, iPhone, BlackBerry, Lenovo, Xiaomi dan masih banyak yang lainnya, smartphone merek lokal masih mencoba bertahan. Sejak tahun 2006 yang lalu, merek-merek smartphone asal Indonesia mulai bermunculan dan mencari celah apa yang tidak dimiliki pada smartphone branded.

Ciri utama dari kebanyakan smartphone lokal yang paling umum adalah, menawarkan harga yang murah dengan fitur yang lengkap. Kini, setelah hampir sepuluh tahun berlalu, meski banyak juga merek lama yang sudah gulung tikar karena tak mampu bertahan, namun masih ada beberapa merek yang masih bertahan dan cukup eksis. Bahkan, merek baru pun juga masih bermunculan.

Smartphone lokal tetap eksis ditengah gempuran pasar akan smartphone branded

Tampaknya, jurus yang diandalkan smartphone merek lokal untuk mampu bersaing dengan merek branded saat ini masih masalah harga (value for money). Mereka berani memasang harga yang sama dengan merek branded, namun dengan spesifikasi yang lebih baik dan fitur lebih lengkap.

Babak baru smartphone lokal

Sebuah babak baru yang menggembirakan telah mulai dirintis oleh vendor merek lokal untuk membuat pabrik sendiri di Indonesia. Meskipun hanya sampai pada tahap perakitan saja, dan komponennya masih diimpor dari Tiongkok, namun paling tidak itu merupakan sebuah langkah besar bagi Negara kita yang kelak sangat bermanfaat. Bukan hanya bisa menghemat milyaran uang devisa karena tidak usah mengimpor barang dari luar, namun juga telah memberikan kesempatan bagi tenaga kerja lokal untuk bekerja di pabrik perakitan tersebut.

Menurut Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi dari Kementrian Industri Budi Darmadi, mengatakan bahwa saat ini kurang lebih ada empat merek lokal yang sudah membuka pabrik produksi di Indonesia, yakni Polytron, Axioo, Evercoss, dan Smartfren. Ada pula Advan dan Mito yang produksinya mencapai hampir 100.000 unit per bulan. Yang terbaru, adalah PT. Tata Sarana Mandiri yang membuka pabrik di Batam, smartphone 4G pertama di Indonesia yang diberi merek IVO.

Faktor utama semakin banyaknya pabrik smartphone lokal adalah komitmen pemerintah untuk menekan angka penyelundupan smartphone dari luar. Selama ini, yang menjadi kekhawatiran terbesar dari vendor tidak mau membuka pabrik sendiri di Indonesia adalah, tingginya tingkat penyelundupan smartphone. Pemerintah dengan sigap terus memperbaiki kebijakan dengan cara setiap smartphone impor harus memiliki International Mobile Equipment Identity (IMEI) yang terdaftar. Selain itu, pemerintah juga rajin melakukan penyisiran langsung di toko-toko smartphone. Walhasil, kini angka penyelundupan smartphone luar berhasil ditekan sehingga investor mulai tertarik membangun pabrik di Indonesia.

Comments on this entry are closed.